Liberalisme Beragama
Dua term, liberal dan agama nampak sebagai dua defenisi yang teramat berbeda secara kategoris. Immanuel Kant selalu menekankan, agar tidak terjadi kekacauan dalam pemikiran maka sudah sepatutnya mengikuti hukum-hukum kompartemen kategoris. Dalam semangat kritisisme Kantian apakah memungkinkan mendirikan suatu agama yang liberal? Liberalisme berasal dari akar kata Liber, yang berarti bebas atau ‘bukan budak’ yang merupakan suatu ideologi atau pandangan filsafat yang meninggikan kebebasan dan hak-hak individual. Diawali oleh tokoh-tokoh seperti John Lock, Rousseau, dan dalam kasus liberalisme ekonomi diawali oleh Adam Smith.
Sementara di pihak yang lain, agama, atau religion dari akar kata bahasa latin ‘Religare’ yang dapat diartikan sebagai ikatan yang kuat dengan Tuhan dan kepatuhan terhadap Tuhan. Sehingga dari penelusuran etimologi yang sederhana dapat dikatakan terdapat perbedaan orientasi yang sangat signifikan, dan bila diradikalisir tidak mungkin untuk dipersatukan.
Ruh dari liberalisme adalah kebebasan, dan dibuat berdasarkan konvenan-konvenan yang bersumber dari ‘equality’ dan rasionalitas. Sedangkan beragama merupakan konvenan dengan Tuhan tanpa transaksi rasionalitas, karena dalam pandangan agama tentu manusia dipandang sebagai mahkluk yang subordinat. Bisa dieksplisitkan bahwa ketika anda beragama anda menyerahkan diri anda secara buta dan sepenuhnya terhadap Tuhan. Bahkan seringkali di dalam doa-doa keagamaan, selalu diucapkan kepasrahaan umat untuk menghamba dan melayani Tuhannya. Dari dua hal diatas, pilihan logisnya adalah, anda total sebagai liberal, atau sebaliknya, anda total sebagai umat beragama. Demikian Kant akan katakan dalam situasi semacam ini.
Namun Kant tidak hidup di abad 21, di era kengerian dan horror yang mencampurkan agama dengan politik. Gerakan fundamentalisme, dengan aksi terorismenya melanggar hukum-hukum kompartemen kategoris. Mereka menggabungkan dua hal yang mengakibatkan pada ‘fallacy’ atau kecurangan dan kekacauan dalam sistem logika. Fundamentalisme adalah virus dalam beragama, ia menggeser ranah privat untuk menduduki ranah publik. Lantas dimana letak para kaum beragama yang liberal? Liberalisme beragama adalah anti-virus terhadap upaya pengeroposan peradaban yang dilakukan oleh kaum fundamentalis. Mereka harus ada dan harus melakukan alterasi dalam sistem keagamaan, karena tanpanya, maka fundamentalisme akan semakin mewabah. Liberalisme beragama muncul karena akibat logis dari maraknya fundamentalisme.
Berbeda dengan para fundamentalis yang secara gamblang ingin menghancurkan pilar-pilar kemanusiaan dalam peradaban, para kaum liberal justru ingin menyelamatkan agama, karena terbukti ateisme bukan penawar yang tepat bagi kekerasan dalam beragama. Tanpa pilihan lain, kaum liberalis harus merubah dogma-dogma keagamaan agar membuatnya lebih minim dari potensi kekerasan. Perubahan ini dilakukan melalui reinterpretasi teks, ataupun desakralisasi dan dekonstruksi teks, perubahan-perubahan yang sesungguhnya amat dilematis, tapi imperative untuk dilakukan. Perlu diingat sekali lagi, perubahan tidak selalu buruk, dalam kasus para kaum liberal dalam agama, mereka mengubah demi menyelamatkan relevansi teks, agar ia tidak lagi koersif dan intoleran terhadap kemajuan zaman.


Recent Comments