« February 2007 | Main | May 2007 »

Kecewa

            Menjadi kecewa adalah keadaan yang lumrah bagi manusia. Bahkan Albert Camus terus menyindir mereka para jiwa-jiwa optimistik, dengan mengatakan, terbiasalah dengan kekecewaan, itulah kenyataan manusia. Life is absurd, it enslave you. Hidup itu absurd, ia selalu memperbudakmu. Apakah kita budak dari kehidupan? Kita bergerak mengikuti kemauan keadaan, kondisi dari keadaan. Upaya merubah menurut Camus adalah reaksi yang muncul secara insting, tapi amat sia-sia.
            Seseorang pernah berkata pada saya, “Ini semua hanyalah kondisi..” Dengan alasan kondisi kita memaklumi keadaan kita, kita menerima keadaan kita secara pasrah. Socrates berpesan; “An unexamined life is not worth living”. Mempercayai generalisme dari kondisi adalah menjalani kehidupan tanpa kritisisme. Hidup harus penuh dengan rasa ingin tahu, rasa memberontak, rasa memperbaiki dan ingin meraih keadaan yang lebih baik. Inilah keutamaan moral dari Socrates. Ia ingin kita membuat pilihan-pilihan berani. Terlepas dari hasil yang kita harapkan, kita bisa menjadi puas akan perubahan tersebut, atau sebaliknya kita kecewa.                                   Disappointment, kekecewaan hanyalah sebagian kecil dari perubahan-perubahan yang ingin kita lakukan, grand narasinya adalah, kita tidak tunduk dengan keadaan. Kita melawan status quo dari pengkondisian tersebut. Sarte akan menguatkan dengan berkata, dalam hidup, perisai kita hanyalah harga diri kita, martabat kita sebagai manusia. Jadilah manusia otentik sambung Heidegger, paham-paham eksistensialis semacam ini menolak kepasrahan terhadap kondisi. Tanpa nilai-nilai semacam ini, apa yang selalu digaungkan oleh Darwin, bahwa kita hanya hewan yang mengikuti hukum evolusi dari alam, menjadi benar.                                     Tapi kita bukan sekedar verteberata, atau hewan bertulang belakang, kita mahkluk yang berpikir, berkehendak, sentimental, kokoh, rapuh, kompleks. Kompleksitas inilah sesungguhnya petanda-petanda superioritas kita. Manusia ada bukan untuk mematuhi sistem, ia ada untuk merangkai, membangun, mencipta, dan melawan sistem. Kita adalah mahkluk yang agresif dan produktif.                                            Mengapa saya menulis ini? Saya jemu mendengar alasan-alasan yang mengkambing hitamkan kondisi. Itu alasan dangkal. Orang yang takut akan perubahan adalah orang yang menjalani hidupnya tanpa kritisisme dan upaya pembuktian. Seperti seseorang yang lari dari suatu keadaan dan bersembunyi dibalik kondisi yang telah membuatnya nyaman. Sahabat saya berkata; “mereka yang lemah adalah mereka yang membuat komitmen, mengikat diri dalam kontrak, tapi ingkar dan tidak loyal terhadap ikatan itu” Seperti yang dikatakan Freud, orang yang neurotis adalah orang yang menukar keberanian dengan kenyamanan. Hanya demi rasa aman, demi stabilitas semu kita mentolerir represi.                                                        Maklumi teman-temanku tersayang, saya baru dirundung kekecewaan. Tapi saya menolak untuk tenggelam dalam kekecewaan tersebut. Bagi anda yang tengah bergelut dengan situasi yang sama, saya sarankan, beranilah mengambil putusan, apapun putusan itu. Diatas segala-galanya, konsistenlah terhadap keputusan itu.
                Take care always :) God Bless u guys!