« February 2008 | Main | July 2008 »

Kisah aku dan sahabatku

Tanggal 31 Mei ini adalah hari yang amat berbahagia untuk yas J Tidak hanya adik perempuan saya yang manis Made Ayu Ratih berulang tahun yang ke 23, tetapi juga peringatan 6 tahun hari persahabatan dengan seorang pemuda tampan xixixixixi

6 tahun yang lalu, waktu saya masih berusia 19 tahun, di suatu pesta ulang tahun di kemang, saya bertemu dengan seorang gitaris. Entah kenapa dulu saya selalu punya prasangka dengan pria, di waktu itu saya katakan pada teman saya Inda, ”Eh si gitaris itu manis banget yah, tp anak band kayak dia pasti groupiesnya banyak yah Nda” Saya ingat sekali bahwa Inda waktu itu berusaha mendorong saya untuk lebih berani bicara dengan si gitaris itu, ”Ayo dong Yas, ngobrol aja..” Tapi berhubung saya habis patah hati dengan seorang mahasiswa Moestopo, wajar apabila saya menjadi tertutup, huhuhu trauma dengan pengkhianatan.

Tetapi si gitaris itu terus menghampiri saya, bahkan di saat terakhir saya beranjak pulang, dia mengambil tangan saya dan menciumnya. Ya ampun, sumpah, gara-gara dicium tangannya, my face was blushing red, lucu deh kalau diinget gugup-gugupnya. Faktor lain yang mengadakan kesempatan adalah usilnya manager saya yang bernama mas Rendy. Dia selalu menjodohkan saya dengan gitaris itu. Tetapi si Gitaris tidak mudah mendapatkan hati saya. Berbulan-bulan kita sms-an. Saya sempat ke Australia, sedangkan dia tur ke berbagai kota di Indonesia. Waktu di hari perjumpaan kita selepas pekerjaan dan perjalanan yang panjang, dia memantapkan hati untuk mengajak serius pacaran. Meskipun saya saat itu masih sangat muda, saya sudah tahu apa yang saya inginkan dari relasi percintaan, saya katakan pada dia, ”Cinta itu persahabatan, kamu harus jadi sahabat saya untuk memiliki hati saya...”

Apa yang saya cintai dari sahabat saya sang gitaris tersebut? Too many to mention. Dia selalu ada disaat susah maupun senang. Waktu adik saya Natalia berpulang karena sakit, dialah yang menopang dan membesarkan hati saya. Mengajarkan saya kepasrahan serta ketabahan menerima kesengsaraan hidup. Dia pula yang mengajarkan bahwa di dalam hidup yang terpenting adalah mengikuti kata hati agar menjadi bahagia. ”Saya ingin jadi guru...” lalu dia bilang, ”Ya sudah kalau begitu jadilah guru yang baik”. Dia selalu melindungi saya, sampai-sampai saya merasa tergantung sekali sama dia. Dia tempat saya berpaling dan bercerita, walaupun dia benci dan meremehkan filsafat, tetapi ia selalu meluangkan waktu untuk mendengar ocehan saya, ”kamu kasih tanggapan yah tentang first meditationnya Rene Descartes”, dia mengangguk dengan patuh.

Saya pernah katakan pada dia bahwa menurut saya tempat terindah di dunia ini adalah Borobudur. Saya tahu fakta2 tentang Borobudur, sudah menulis begitu banyak artikel tentang Borobudur, tetapi saya tidak pernah menginjakan kaki di Borobudur. Lalu di malam tahun baru dia katakan pada saya, ”besok siap-siap yah, kita mau ke tempat istimewa.” Sewaktu di Borobudur, dia bertanya pada saya, ”Kamu bahagia ?” Tentu saja saya tersenyum sambil mengiyakan.

Apakah kita bertengkar? Dengan jujur akan saya jawab, SELALU! Saya keras kepala, dia juga keras kepala. Tapi entah kenapa saya tidak bisa berlama-lama marah dengan dia, begitu juga sebaliknya. Biasanya dia akan sms, ”Yas, udah ya marahannya, kapan2 kita sambung lagi, saya bener2 ingin ketemu kamu...”

Apa saja perbedaan antara saya dan sang gitaris, dia pemakan daging, sementara saya vegetarian. Dia pendiam dan penyendiri, sedangkan saya sangat cerewet dan senang dengan keramaian. Terkadang saya suka dangdut, kata dia ”please deh, jangan jatuhin harga diri saya dong sebagai rocker...”(hihihihi). Saya suka pedas, dia tidak. Saya cinta Jakarta, dia muak dengan Jakarta. Saya suka film India, sementara dia selalu mencemooh idola saya Shah Rukh Khan. Dia percaya UFO (tolong deh), buat saya itu omong kosong. Tetapi kita juga ada kesamaan. Kita berdua sama-sama penyayang keluarga dan menganggap keluarga adalah alasan eksistensi hidup kita, kata dia, tidak ada yang lebih penting diatas keluarga. Kita berdua suka Stevie Ray Vaughn dan suka melongo heran kalau nonton

DVD

manggungnya Stevie Ray di Texas. Kita tergila-gila dengan pantai di Bali, dan berikrar akan tinggal di Bali di kala tua. Kita berdua penyayang anjing banget, dan ingin punya rumah yang halamannya bisa nampung 14 anjing.

Jadi kekasihku, selamat 6 tahunan yah, terima kasih kamu sudah menjadi sahabat yang sempurna. Truth be told, you are not just my best friend, you are my everything...

Love, Singkongrebush.

PS : Sayang, jgn lebih cinta sama burger king yah dibanding sama saya L

                            

Panacea

James Blunt berkata dalam salah satu lagunya, “Give me reason, but don’t give me choice cause I’ll just make the same mistake again.”

Mengapa kesetiaan itu penting dalam suatu relasi percintaan? Mengapa kita menuntut kesetiaan dan dituntut sebaliknya juga. Apakah kesetiaan itu penting, dan apakah menjadi setia itu suatu yang alamiah bagi manusia? Mengapa tema ini yang diangkat? Memang bulan ini bulan membaca sastra untuk kelas Hermeneutika, dan saya sedang bergelut dengan teks-teks yang ditulis oleh Giacomo Casanova. Casanova bukan sekedar satu persona, ia suatu budaya, suatu ikon, yang secara simultan dibenci dan dikagumi. Anda penganggum Casanova? Atau sebaliknya ingin membunuh setiap (c)asanova-casanova wannabes diluar

sana

J

Bila anda meyakini bahwa sifat beradab kita adalah suatu konstruksi budaya, maka kita juga yakin bahwa menjadi setia dan monogamus adalah suatu habituasi pula. Freud mati-matian akan membela kredonya, manusia adalah hewan seksual! Demikian pula dengan Casanova yang meski hidup sengsara dikejar hutang dan suami-suami yang istrinya telah digauli olehnya, ia mengaku bahagia dan puas dengan

gaya

hidupnya. Dalam jurnalnya ia berkata, “tiada lagi hal yang lebih prinsipil bagi saya selain mencari kenikmatan dan kepuasan ragawi.” Prinsip yang sederhana sekali… dan memang terdengar agak dangkal. Tapi ia sangat yakin bahwa kebahagiaan di dalam kesetiaan itu sesuatu hal yang ilusif. Kesetiaan bukan sifat alami dari manusia.

Awalnya saya membenci Casanova, (mengingat pernah menjadi korban dari beberapa pengikut setia Casanova L), tapi kini saya justru kasihan. Iba, pada Casanova yang mendefinisikan cinta sebatas sensasi tubuh, penaklukan seksual, padahal cinta menawarkan lebih dari hal-hal tersebut. Seperti apa saja anda tanya? Oke… seperti companionship, atau the pleasure of growing and nurturing a relationship. Lagipula mengenai apa yang alamiah atau tidak, (lelah dengan pembenaraan seperti ini) setia atau tidak itu persoalan kehendak bebas. Jadi, mengkritik James Blunt (yang ternyata selama ini seorang yang playboy dibalik lirik-liriknya yang menjamah kalbu!) Ketika ia bernyanyi, “don’t give me choice, cause I’ll just make the same mistake again.”

Aaaarggghhhh, don’t say that! Seolah-olah menjadi setia adalah paksaan yang harus dipatuhi ketika berada di dalam suatu hubungan. To be loyal in a relationship is an art of its own. Jangan ketawa yah,… memang susah untuk setia, mengingat begitu banyaknya godaan yang beragam diluar

sana

. But I believe the pain on rejecting those temptations, will cause a distinct blissfulness. Tetapi tentunya pilihan itulah inti dari setiap hubungan, you are never obligated to be faithful or not to be faithful to your lover, it’s always about that reason why you do it. Misalnya anda akan berkata pada diri anda sebelum tidur, alasan saya setia karena saya sungguh-sungguh mencintai dia, dan tidak ada orang lain yang bisa menyebabkan perasaan seperti ini selain dia. Ah, wouldn’t it be nice to feel that way to someone?