Mustahil Menangis
Jika Spinoza benar, maka tidak saja air mata itu sia-sia tetapi juga irelevan. Spinoza mengatakan bahwa segala sesuatunya di alam ini sifatnya deterministik. Tidak sekedar hukum-hukum alam seperti gravitasi, maupun ekuasi matematis. Intinya dunia di desain sedemikian rupa dengn aturan-aturan (limitasi) yang distinktif. Teori Spinoza ini dikenal sebagai 'hard determinism'. Pandangan determinisi keras ini berimplikasi terhadap apa yang kita sebut sebagai kehidupan. Ia menganggap bahwa manusia tidak memiliki free will. Bahwa apa yang disebut sebagai konsep kehendak bebas sangat berlawanan dengan kerangka determinisme (alam). Kehendak bebas adalah ilusi, suatu figmen imajinasi yang dibentuk oleh psyche manusia agar memberikan sejenak rasa kuasa. Rasa dominasi diatas hidup yang terus menggerus.
Nyatanya, sekalipun Spinoza benar, manusia akan selalu menangis. Menangisi kejadian-kejadian di dalam hidup yang berjalan tidak sesuai dengan harapan maupun rencana kita. Tangisan kita sepertinya hanya menjadi semacam protes yang sayup di hamparan alam semesta yang luas. Dimana tangisan itu tidak merubah apapun, maupun memperbaiki sesuatu. Alam, sudah memberikan format bagaimana kehidupan ini akan berlangsung. Hari esok akan tetap tiba sebagaimana eksistensialitas jiwa kita menolak masa depan. Itu hanya fakta keras yang tidak dapat kita kesampingkan.
Kalau begitu, mengapa menangis, bila secara naturalistik, tidak ada hal yang relevan untuk ditangisi? Spinoza mungkin mencorat-coret teori ini di dalam kamarnya sambil menenggak setengah botol vodka, dengan harapan bahwa mengakui superioritas alam akan mendamaikan rasa tidak puasnya dengan kondisi fisiknya yang lemah. Ia lemah, sakit, sebatang kara dan terasing. Di tangannya hanya tersedia tumpukan kertas berisikan teori-teori yang ia jadikan sebagai tempat suakanya. Tapi, hey, ini toh hanya suatu interpretasi. Mungkin metode menjadi budak terhadap alam adalah obat yang mujarab bagi seorang bujangan kesepian seperti Spinoza.
Tapi untuk saya? Saya menangis, meski sepertinya melelahkan untuk menangis dan berduka. Karena tidak saja kesusahan datang terlampau mendadak, ia juga datang bertubi-tubi. Bila sebagian dari anda melewatkan kesedihan, dengan mengitari kota, menghabiskan minuman keras, merokok, menaiki roller coster hingga mual, menghamburkan uang demi produk yang sama sekali tidak esensial, merobek, membakar, ataupun berteriak. Bagi saya, saya hanya butuh 2 menit (atau 2-3 bulan, tidak pernah ada aturan yang absolut) untuk menangis seorang diri, menulis, menangis lagi, kemudian menulis. Meski jauh di dalam lubuh hati tertancap apa yang dikatakan oleh Spinoza, bahwa apapun yang diperbuat tidak akan merubah apa yang dimaksudkan untuk terjadi. Perpisahan, kematian, kehilangan, pengkhiantan, maupun kegagalan. Air mata tidak akan menghapus fakta-fakta itu.
Terkadang saya katakan, “mustahil kali ini saya akan menangis..” Tetapi sebaliknya ternyata hati masih menangis. Meski otak seorang filosof dilatih untuk mengantisipasi kejadian-kejadian seperti ini, tetap saja, siapa yang bisa menduga arah dari kemauan hati. Ia ingin menangis, detik ini, di tempat ini. Tentunya, kita hanya bisa mengusap air mata sambil berkata, “begitulah hidup.”

terimakasih.
Posted by: Bumi Arie | July 9, 2008 12:56 AM
Saya percaya bahwa hanya Jodoh dan mati saja yang sifatnya deterministik.
Posted by: Septian | August 4, 2008 08:41 PM